Friday, 18 December 2009

Hidup Tak Selalu Indah

Waktu tak akan pernah berhenti. Walapun aku kadang-kadang ingin menghentikannya. Dan kadang-kadang aku ingin mempercepatnya. Tergantung dari keadaanku saat itu. Jika sedang tidak menunggu sesuatu yang kuharapkan, aku pasti ingin agar waktu pelan berjalan. Tapi kalau sedang berharap-harap, kepengen sekali memutar jarum jam lebih cepat.

Egois sekali sepertinya ya... Seakan-akan hanya aku yang memiliki waktu di dunia ini. Padahal kalau dipikir-pikir, aku hanya punya satu buah jam tangan dan satu buah ha pe murah yang sering aku pake sebagai pengingat waktu jika kelupaan memakai jam tangan. Aneh banget deh...bahkan di kamar kos, aku tak pernah berniat memasang jam dinding supaya koleksi penunjuk waktuku lebih banyak.

Kata orang, kita harus punya impian agar kita bersemangat buat menjadikannya nyata. Dan aku ternyata punya banyak koleksi mimpi. When I was a child, aku pengen bisa bermain dengan siapa saja dan di mana saja. Main kelereng dengan temen-temen abangku atau main lompat tali dengan temen-temen sekolah. Tapi ternyata aku tak bisa melakukannya, apalagi setelah pecahan kaca minuman botol tanpa izin mampir di kaki kananku. Hasilnya, nasihat pak dokter : aku hanya boleh melihat teman-teman kecilku berlari ke sana ke mari.

When I was in SMP, tumpukan novel-novel Marga T dan NH Dini menghiasi meja belajarku. Aku belum akan melepaskan satu novel yang kubaca jika belum sampai pada lembaran terakhir. Jadinya aku kepingin sekali bisa nulis cerita yang dipenuhi dengan hiasan romantis nan menggebu. Mencoba beberapa kali menulis dan mengirimkannya ke majalah favorit, tapi selalu kembali ke rumah. Dongkol juga, tapi tak apa. Karena ternyata beberapa tahun kemudian aku bisa menulis apa yang aku pikir melalui internet. Bahkan punya blog sendiri seperti sekarang...hehehe... Hidup itu ternyata tak sia-sia.

When I was in SMA, bukan sombong bukan riya'.. Aku selalu jadi juara kelas. Orang bilang sih pinter, tapi aku pikir aku bisa begitu karena kerja keras dan disiplin. Aku memaksakan diriku untuk mematuhi time schedule-ku supaya aku bisa mencapai mimpiku saat itu ; dapet Jurusan Biologi dan melanjutkan ke ef ka biar jadi dokter. Alhasil, aku bahkan bisa masuk Fisika tapi kehidupan sosialku terganggu. Temen dekatku tak banyak. Bisa dihitung dengan sepuluh jari. Dan setelah lulus SMA, aku juga tak bisa ke ef ka karena tak ada izin ortu. Sedih sih.. tapi tak selamanya yang diinginkan itu nyata. Namanya juga mimpi.. Pada saat aku tertidur kembali, ternyata aku melihat impian lain yang lebih indah.

Hidupku tak selalu indah seperti yang kuimpikan. Aku ingin menjadi seperti itu, ternyata aku diberikan hidup seperti ini. Ternyata ada yang lebih kuasa menentukan apa impianku. Saat aku lelap dan terjaga, adalah dua dunia yang berbeda. Baik bagiku, tapi belum tentu baik menurut orang lain. Dan sebaliknya.

Tapi aku bersyukur..sangat bersyukur. Bahkan aku tak bisa menghitung lagi berapa banyak rasa syukur itu telah kuucapkan sepanjang hidupku, kini dan esok. Memang, hidup tak selalu indah bagi yang tak pernah bersyukur...